Pengetahuan, Keterampilan, dan Nilai Dalam Pekerjaan Sosial

PPKH Kecamatan Lakbok - Pekerja sosial merupakan bidang keahlian yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan berbagai upaya guna meningkatkan kemampuan orang dalam melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya melalui interaksi agar orang dapat menyesuaikan diri dengan situasi kehidupannya secara memuaskan. Kekhasan pekerja sosial adalah pemahaman dan keterampilan dalam memanipulasi perilaku manusia sebagai makhluk sosial.

Wajar bila orang memiliki masalah, mereka mencari bantuan. Biasanya, mereka berpikir mereka tidak memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah mereka kecuali seseorang membantu mereka untuk melakukannya. Dan bahkan ketika bantuan datang, mereka mengharapkan pembantu untuk menghasilkan keajaiban yang akan memecahkan masalah mereka. Para pekerja sosial harus membuat peran pekerjaan mereka jelas ketika mereka didekati oleh klien. Peran mereka adalah untuk membantu klien untuk mengetahui mengapa mereka membutuhkan bantuan dan di mana mereka bisa mendapatkannya. Profesi pekerjaan sosial mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan, dan pembebasan manusia , serta perbaikan masyarakat.


Untuk menjadi seorang pekerja sosial profesional haruslah memiliki kemampuan keahlian dasar yang terdiri atas: pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional. Dengan kemampuan tersebut baik yang didapat dari pendidikan formal maupun dari pengalaman-pengalaman praktiknya maka perkejaan sosial profesional diharapkan dan dituntut untuk mampu memecahkan masalah-masalah sosial.

Pekerjaan sosial adalah suatu bidang yang melibatkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosialnya yang menggunakan kemampuan orang untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupan mereka, mengatasi penderitaan, dan mewujudkan aspirasi-aspirasi serta nilai-nilai mereka.

Pekerjaan sosial sebagai suatu profesi dapat dikatakan sebagai profesi yamg baru muncul di abad kedua puluh. Berbeda dengan profesi lain yang mengembangkan spesialisasi untuk mencapai kematangannya, maka pkerjaan sosial lebih berusaha untuk menyatukan berbagai bidang ilmu ataupun spesialisasi dari berbagai praktik.

               Pekerjaan sosial bukan tentang memberikan solusi untuk masalah saja, tetapi memberikan sebuah ruangan dimana klien dapat meninjau keprihatinan mereka dan melihat bagaimana mereka dapat mengelola apa yang terbaik dan menjalani kehidupan yang efektif. Pekerjaan sosial menghubungkan klien dengan layanan, sumber daya dan peluang yang mungkin memberi mereka bantuan yang mereka butuhkan. Ini memberikan kontribusi untuk klien dalam pemecahan masalah.



Menurut Thelma Lee Mendoza, pekerjaan sosoial merupakan profesi yang memperhatikan penyesuaian antara individu dengan lingkungannya dan  individu dalam hubungan dengan situasi kondisi lingkungannya. Dari pandangan ini, permasalahan dalam bidang pekerjaan sosial erat kaitannya dengan masalah fungsi sosial, yaitu kemampuan seseorang untuk menjalankan perannya sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

Pada umumnya dalam relasi antara pekerja sosial dengan klien ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh pekerja sosial terutama ketika menerapkan metode bimbingan perseorangan, yaitu:

1.        Penerimaan
Prinsip ini mengemukakan bahwa seorang pekerja sosial menerima klien tanpa menghakimi klien tersebut terlebih dahulu.  Kemampuan pekerja sosial untuk menerima klien dengan sewajarnya akan banyak membantu perkembangan relasi antara pekerja sosial dengan kliennya.

2.        Komunikasi
Prinsip komunikasi ini erat kaitannya dengan kemampuan pekerja sosial untuk menangkap informasi ataupun pesan yang dikemukakan oleh klien, baik dalam bentuk komunikasi yang verbal, yang diungkapkan klien ataupun sistem klien, maupun bentuk komunikasi non verbal.

3.        Individualisasi
Prinsip individualisasi pada intinya menganggap setiap individu berbeda dengan yang lainnya, sehinngga seorang pekerja soaial haruslah menyesuaikan cara memberi bantuan dengan setiap kliennya, guna mendapatkan hasil yang diinginkan. Dengan adanya prinsip individualisasi ini maka seorang pekerja sosial dibekali dengan pengetahuan bahwa setiap individu adalah unik, sehingga pendekatan yang diutamakan adalah kasus per kasus dan bukannya penggeneralisasian.

4.        Partisipasi
Berdasarkan prinsip ini, seorang pekerja sosial harus mengajak kliennya untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi permasalahan yang dihadapinya, sehinnga klien ataupun sistem klien juga mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan proses pemberian bantuan tersebut. Karena tanpa ada kerja sama dan peran serta dari klien maka upaya pemberian bantuan sulit untuk mendapat hasil optimal.

5.        Kerahasiaan
Prinsip kerahasiaan ini akan memungkinkan klien ataupun sistem klien mengungkapkan permasalahan yang ia hadapi dengan rasa aman, karena ia yakin bahwa apa yang ia utarakan dalam hubungan kerja sama dengan pekerja soaial akan tetap dijaga oleh pekerja sosial agar tidak diketahui oleh orang lain.

6.        Kesadaran diri pekerja social (worker self-Awarness)
Prinsip ini menuntut pekerja social untuk bersikap professional dalam menjalin relasi dengan kliennya, dalam arri bahwa pekerja sosial harus mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak terhanyut oleh permasalahan yang dihadapi oleh kliennya. Pekerja sosial di sini haruslah tetap rasional, tetapi mmpu menyelami perasaan kliennya secara obyektif. Dengan kata lain, pekerj sosial haruslah menerapkan sikap empati dalam menjalin relasi dengan kliennya.

Untuk menjadi seorang pekerja sosial profesional haruslah memiliki komponen-komponen keahlian dasar yang terdiri atas: pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional.Dengan bekal komponen-komponen dasar tersebut baik yang didapat dari pendidikan formal maupun dari pengalaman-pengalaman praktiknya maka pekerjaan sosial profesional diharapkan dan dituntut untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang timbul sebagai akibat dari adanya pembangunan.

Praktik pekerjaan sosial dapat membantu terwujudnya suatu usaha kesejahteraan sosial. Praktek pekerjaan sosial tersebut dilandasi oleh tiga komponen penting yang menjadi bagian dari landasan praktik pekerjaan sosial. Komponen pengetahuan dan keterampilan adalah bagaimana penerapan ilmu-ilmu sosial dalam praktek pekerjaan sosial sedangkan komponen sikap merupakan landasan sikap profesional dalam pekerjaan sosial.

Di dalam prakteknya pekerjaan sosial didasarkan atas pengetahuan dan keterampilan yang diorientasikan melalui tindakan. Pengetahuan ini meliputi Human Behavior and social environment, social welfare system, methods of social work, and research. Dengan demikian maka tanggung jawab utama seorang pekerja sosial adalah menerapkan pengetahuan dalam pemecahan masalah.

Oleh sebab itu praktek pekerjaan sosial sebagai pelayanan profesional dapat dipertanggungjawabkan, karena pada dasarnya praktek ini menerapkan atau mewujudkan pengetahuan (knowledge) dan nilai (value). Untuk dapat mempraktekkan secara bertanggungjawab maka diperlukan keterampilan-keterampilan (skills).

Naomi I. Brill dan Leonora Serafica de Guzman menyatakan bahwa keterampilan-keterampilan pekerjaan sosial terdiri dari :

1. Diferential Diagnosis, keterampilan ini berhubungan dengan kemampuan pekerja sosial untuk memahami keunikan klien serta situasinya serta menyesuaikan tekniknya terhadap klien. Disini pekerja sosial diharapkan mampu mendiagnosa perbedaan-perbedaan tersebut, berarti tidak dibenarkan untuk menangani masalah dengan cara yang sama

2. Timing, manusia pada dasarnya mempunyai masalah terus menerus. Namun di dalam menangani atau memecahkan suatu masalah, seorang pekerja sosial dibatasi oleh waktu, disini berarti pekerja sosial harus mempunyai keterampilan untuk merencanakan dan menggunakan waktu secara tepat.

3. Partialization, masalah pada dasarnya kompleks, yaitu luas dan komprehensif. Untuk dapat memahaminya para pekerja sosial harus mempunyai keterampilan untuk memisah-misahkan serta membantu klien memikirkan masalah itu dan memutuskan dimana titik mulai penanganan masalah.

4. Focus, masalah sosial mempunyai banyak dimensi dan masing-masing dimensi saling berinteraksi. Untuk itu pekerja sosial harus mampu memfokuskan salah satu dimensi sebagai point of entry.

5. Establishing Partnership, keterampilan ini berhubungan dengan kerja bersama antara pekerja sosial dengan klien dalam mememahami tugas-tugas dan peranan-peranan satu sama lainnya.

6. Structur, keterampilam penstrukturan berhubungan dengan kemampuan pekerja sosial untuk menentukan setting dan batas-batas yang dapat lebih berguna terhadap pekerjaan yang akan dilakukan. Disini ditentukan dapat tidaknya dilakukan, kapan, dan dimana diadakan konsultasi, hal-hal apa yang diperlukan dan sebagainya. (brill, 1978;128-132 dan Guzman 1983:100-104).

Sedangkan keterampilan-keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh pekerja sosial dikemukakan pula oleh Armando Morales dan Bradford W. Sheafor sebagai berikut :

1.  Basic helping skills yaitu keterampilan dasar dari pekerja sosial. Antara lain penerapan skill di dalam berhubungan dengan klien (relationship), cara bertindak yang rasional termasuk kemampuan mengumpulkan data collection, kemampuan mengumpulkan data analisis dan aksi.

2. Engagement skills, adalah proses melayani orang sebelum menjadi klien, pekerja sosial dapat menjelaskan pelayanan apa yang ada pada lembaga tempat kita bekerja dan calon klien tersebut sebaiknya mengetahui lembaga pelayanan yang ada di luar.

3. Observation skills , yaitu keterampilan untuk melakukan pengamatan. Pekerja sosial bukan hanya mengamati dengan mata dan telinga tetapi juga dengan hati.

4. Comunnication skills, yaitu kemampuan berkomunikasi.

5. Emphaty skills, yaitu keterampilan untuk merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain hingga kita dapat menggunakan akal pikiran kita untuk membantu memecahkan masalah.

Selanjutnya pekerja sosial harus memahami berbagai pendekatan lain di luar keterampilan-keterampilan tersebut di atas dan dapat memilih satu diantaranya yang paling tepat untuk suatu tujuan tertentu. Akan tetapi seringkali pekerja sosial dihadapkan pada satu situasi yang mengandung prasangka-prasangka teoritis terpaku pada teori-teori ilmiah tertentu yang dapat mempengaruhi usahanya untuk menyusun tugas-tugas dalam pekerjaannya dan juga tujuan-tujuannya. Dengan kata lain ada suatu anggapan bahwa terdapat kesenjangan antara teori yang dipelajari dengan praktek yang dilaksanakan dalam proses pemberian bantuan. Dengan demikian keterampilan pekerjaan sosial perlu diarahkan kepada situasi dan kondisi permasalahan yang sering timbul di masyarakat agar praktek pemberian bantuan dari pekerjaan sosial dapat berfungsi secara taat waktu dan taat asas.

Selain itu pekerjaan sosial juga dipengaruhi oleh berbagai nilai. Pekerjaan sosial menyatakan pentingnya nilai-nilai sebagai suatu dimensi yang besar dalam praktek profesionalnya. Oleh sebab itu pekerja sosial menempatkan posisi yang didasarkan atas suatu nilai-nilai. Nilai-nilai secara umum dapat diartikan sebagai pusat pandangan setiap orang tentang bagaimana menjalani hidup ini. Artinya nilai-nilai merupakan suatu pedoman tingkah laku bagi setiap orang dalam melakukan tindakan di suatu lingkungan tertentu guna mencapai tujuan-tujuannya.

Praktik pekerjaan sosial selalu berdasarkan pada nilai masyarakat, karena profesi pekerjaan sosial mendapat misi untuk melaksanakan sebagian dari fungsi masyarakat. Oleh sebab itu praktik pekerjaan sosial akan mengambil dan dipengaruhi oleh nilai masyarakat. Jadi suatu profesi harus selaras dengan nilai-nilai masyarakat. Praktik pekerjaan sosial di Indonesia harus yang sesuai dan mendukung nilai masyarakat Indonesia.

Pengetahuan pekerjaan sosial dapat diambil dari mana saja, tetapi kita perlu menyaringnya untuk disesuaikan dengan nilai masyarakatnya. Nilai belum tentu merupakan hal yang dipraktikkan di dalam masyarakat atau dengan kata lain apa yang dipraktikkan di dalam masyarakat belum tentu merupakan kegiatan untuk mencapai/melaksanakan nilai. Jadi nilai masyarakat sebagai salah satu sumber nilai profesi, karena profesi sebenarnya lahir sebagai perwujudan dari pelaksanaan nilai masyarakat.

Konsep nilai banyak dibahas di dalam literatur pekerjaan sosial, karena nilai mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam pelaksanaan praktik pekerjaan sosial. Pekerja sosial dalam melaksanakan tugas-tugasnya selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai. Menurut Armando Morales dan Bradford W. Sheafor sebagai berikut :

Nilai pekerjaan sosial yang meliputi:

1. Nilai-nilai personal (personal value)
2. Nilai-nilai profesi (profesional value)
3. Nilai-nilai pribadi (values of client’s)
4. Nilai lembaga tempat pekerja sosial bekerja
5. Nilai masyarakat dimana praktek pekerjaan sosial dilaksanakan.

Nilai-nilai dasar pekerjaan sosial berasal dari nilai-nilai masyarakat demokratis yang menekankan penghargaan pada martabat dan harga diri manusia, serta antar hubungan yang saling menguntungkan diantara individu dengan masyarakat. Kemudian di dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut dirumuskan menjadi prinsip-prinsip dasar pekerjaan sosial yang akan menjadi landasan bagi praktik pekerjaan sosial profesional.

Prinsip-prinsip dasar pekerjaan sosial tersebut meliputi: keyakinan akan martabat dan harga diri manusia, keyakinan akan adanya hak manusia untuk menentukan nasibnya sendiri, keyakinan akan adanya hak yang sama bagi setiap manusia, serta keyakinan akan adanya tanggung jawab sosial dalam pelaksanaan tugas-tugas kehidupan setiap manusia termasuk tugas profesionalnya.

Selanjutnya dalam praktik, pekerja sosial dituntut untuk mengenali, memahami, serta menginternalisasikan beberapa nilai sebagai berikut :

1.        Penerimaan (acceptance)
2.        Komunikasi (communication)
3.        Partisipasi (participation)
4.        Bersikap adil, tidak terlalu memuji ataupun mencela
5.        Menghargai kerahasiaan dari privacy kliennya
6.        Mawas diri pada pekerja sosial
7.        Memakai rasio dalam memberikan tanggapan yang objektif
8.        Fleksibel

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa sikap pekerja sosial dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar profesional, nilai-nilai masyarakat secara umum serta nilai-nilai masyarakat tempat dilaksanakannya praktik pekerjaan sosial. Dan pada dasarnya sikap profesional tersebut terletak pada pengendalian diri pekerja sosial untuk tetap mampu bersikap objektif tanpa pernah kehilangan sikap sebagai manusia biasa. Dapat pula diartikan sikap profesional pekerja sosial terutama berarti kemampuannya untuk mengenali dan menggunakan dirinya sendiri dalam suatu hubungan profesional dengan kliennya. Seperti juga hal pekerja sosial harus memilih kemampuan untuk memahami berbagai aspek pada klien serta lingkungan. Pemilikan sikap profesional tersebut merupakan proses dan merupakan hasil belajar dari para pekerja sosial itu sendiri baik dari penelaahannya maupun pengalamannya secara praktis. Pemilikan sikap tersebut tidak diragukan lagi dalam proses pemberian bantuan, sehingga hubungan pemberian bantuan bukan diciptakan oleh teknik-teknik pemberian bantuan melainkan oleh pemberi bantuan itu sendiri dalam hal ini adalah pekerja sosial profesional.

Kerangka nilai pekerjaan sosial juga berfungsi sebagai filter di dalam upaya pengadopsian maupun pengembangan aspek-aspek ilmu pengetahuan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat dimana praktik pekerjaan sosial dilakukan. Nilai-nilai yang bersumber dari kerangka pengetahuan ilmiah pekerjaan sosial yang turut melengkapi kerangka nilai pekerjaan sosial dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1.  Nilai tentang konsepsi orang yang mencakup:
a. Pekerja sosial percaya bahwa setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk menentukan dirinya sendiri.
b. Setiap orang mempunyai kemampuan dan dorongan untuk berubah, sehingga dapat lebih meningkatkan taraf hidupnya.
c. Setiap orang mempunyai tanggungjawab kepada dirinya dan juga kepada orang lain di dalam masyarakat.
d. Orang memerlukan pengakuan dari orang lain.
e. Manusia mempunyai kebutuhan dan setiap orang pada prinsipnya unik serta berbeda dengan orang lainnya.

2. Nilai tentang masyarakat yang perlu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh setiap orang yang mencakup:
a. Masyarakat perlu memberikan kesempatan bagi pertumbuhan dan perkembangan setiap orang agar mereka dapat merealisasikan semua potensinya.
b. Masyarakat perlu menyediakan sumber-sumber dan pelayanan-pelayanan untuk membantu orang memenuhi kebutuhan mereka dan menghadapi atau memecahkan permasalahan yang dialami.
c. Orang perlu diusahakan agar mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di dalam masyarakatnya.

3. Nilai yang berkaitan dengan interaksi antar orang, yang mencakup:
a. Pekerja sosial percaya bahwa orang yang mengalami masalah perlu dibantu (oleh orang lain).
b. Pekerja sosial percaya bahwa di dalam usaha memecahkan masalah orang/klien perlu respek dan diberi kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri.

c. Pekerja sosial percaya bahwa orang yang perlu dibantu dan diingatkan interaksinya dengan orang lain untuk membangun sesuatu. Masyarakat yang mempunyai tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan setiap anggota/ warganya.

KESIMPULAN
Pekerjaan sosial adalah suatu bidang yang melibatkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosialnya yang menggunakan kemampuan orang untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupan mereka, mengatasi penderitaan, dan mewujudkan aspirasi-aspirasi serta nilai-nilai mereka. Pada umumnya dalam relasi antara pekerja sosial dengan klien ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh pekerja sosial terutama ketika menerapkan metode bimbingan perseorangan, yaitu: penerimaan, komunikasi, individualisasi, partisipasi, dan kerahasiaan.

Untuk menjadi seorang pekerja sosial profesional haruslah memiliki komponen-komponen keahlian dasar yang terdiri atas: pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional.Dengan bekal komponen-komponen dasar tersebut baik yang didapat dari pendidikan formal maupun dari pengalaman-pengalaman praktiknya maka pekerjaan sosial profesional diharapkan dan dituntut untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang timbul.

Dalam praktiknya, pekerja sosial dituntut untuk mengenali, memahami, serta menginternalisasikan beberapa nilai yaitu: penerimaan (acceptance), komunikasi (communication), partisipasi (participation), bersikap adil, tidak terlalu memuji ataupun mencela, menghargai kerahasiaan dari privacy kliennya,  mawas diri pada pekerja sosial, memakai rasio dalam memberikan tanggapan yang objektif serta fleksibel.

Sumber : https://imambager45.blogspot.com/
 Isbandi Rukminto Adi, Psikologi Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 10.

UNESCO, Modul 3 Pekerjaan Sosial, (Perancis: Ag2i Communication), hlm. 11. 

Isbandi Rukminto Adi, Psikologi Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), Hal 16-19

Dudung Abdurroup, Komponen Kemampuan Dasar Profesi Pekerjaan Sosial, (Bandung: FISIP UNLA), hlm. 7-8.

http://upipagow.blogspot.co.id/2013/12/tehnik-ketrampilan-dalam-praktek.html

Dudung Abdurroup, Komponen Kemampuan Dasar Profesi Pekerjaan Sosial, (Bandung: FISIP UNLA), hlm. 10.

 Ibid, hlm. 11.

https://mohammadafandi.wordpress.com/2009/03/18/sekilas-pekerja-sosial/

Post a Comment

0 Comments