Cara Menyikapi Perilaku Agresif Anak

PPKH Kecamatan Lakbok - Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan Perilaku Agresif secara psikologis berarti cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi atau menghambat (KBBI: 1995: 12).

Foto Kegiatan P2K2/FDS Sesi Memahami Perilaku Anak

Ada juga anak yang selalu memaksa temannya untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan, bahkan tidak sedikit pula anak yang mengejek atau membuat anak lain menjadi kesal.

Perilaku agresif bentuknya bermacam-macam, diantaranya memukul, menendang, melempar, merusak, atau berteriak dan berkata kasar.  Perilaku agresif dapat menyakiti tubuh maupun perasaan orang lain.  Bagaimana jika perilaku tersebut dilakukan anak secara berulang? Sebaiknya orang tua tidak serta merta menghakimi dan menghukum anak, melainkan perlu mencermati  hal-hal sebagai berikut terlebih dahulu agar dapat mencegah perilaku agresif muncul kembali:

1.       Perilaku orang di sekitar
Apabila orang-orang di sekitar anak terbiasa berbicara dengan nada tinggi dan kasar, serta beperilaku kasar maka tidak mengherankan jika anak kemudian mencontohnya dan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Anak dari orang tua yang menggunakan kekerasan sebagai hukuman, berpotensi lebih tinggi untuk melakukan tindak kekerasan pada orang lain.

2.       Games dan media
Coba cermati games dan tontonan yang sering dinikmati anak setiap harinya. Apakah mengandung unsur kekerasan? Tidak semua permainan dan tayangan yang diperuntukkan oleh anak bebas dari adegan kekerasan. Apalagi jika anak berkesempatan menyaksikan tayangan yang tidak diperuntukkan untuk anak seusianya.

3.       Terancam atau tertekan
Coba cermati apakah ada situasi yang membuat anak merasa terancam atau tertekan baik di rumah maupun disekolah? Dekati anak dan coba gali mengenai hal ini. Manusia yang berada dalam kondisi terancam akan memunculkan reaksi pertahanan diri, salah satu reaksi yang paling bersifat naluriah adalah dengan cara memunculkan perilaku menyerang. Perilaku menyerang dapat ditujukkan langsung pada pihak yang membuat seseorang merasa terancam, atau dapat pula ditujukkan pada objek lain sebagai pelampiasan.

4.       Frustrasi
Frustrasi adalah bentuk reaksi emosi yang muncul ketika seseorang tidak berhasil mencapai apa yang ia harapkan atau ia inginkan. Coba cermati apakah anak mengalaminya?Anak dapat berperilaku agresif karena merasa keinginannya tidak kunjung dipenuhi oleh orang tua, merasa gagal di sekolah, atau merasa adik, kakak serta temannya menghalangi upayanya dalam mencapai apa yang ia inginkan.

5.       Terpola
Perilaku agresif salah satunya dapat  dilakukan anak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Apabila cara tersebut berhasil, anak kemudian “belajar” bahwa ternyata jika ia melempar, memukul, atau berteriak orang tua akan memenuhi keinginannya. Jika orang tua terus membiarkan ini terjadi maka perilaku agresif menjadi terpola dan terbiasa dilakukan anak

6.       Faktor neurologis
Tidak semua perilaku agresif muncul karena unsur kesengajaan murni, atau unsur belajar dari lingkungan. Ada pula anak-anak yang mengalami gangguan neurologis (syaraf) di masa perkembangannya sehingga bagian pada otak yang berfungsi untuk mengontrol perilaku tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Misalnya saja pada anak-anak yang mengalami Autisme, atau anak-anak dengan Disabilitas Intelektual yang cukup berat sehingga kesulitan untuk belajar mengendalikan emosinya (Catatan: tidak semua anak autis dan anak dengan disabilitas intelektual berperilaku agresif)

Untuk itu, untuk dapat mengetahui anak berperilaku kita harus dapat mengenali gejala serta Karakteristik Anak yang Berperilaku Agresif. Lebih lanjut Hidayani menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat ditampilkan oleh anak individu (agresif tipe soliter) maupun secara berkelompok ( agresif tipe group). Pada perilaku agresif yang dilakukan berkelompok/grup, biasanya ada anak yang merupakan ketua kelompok dan memerintahkan teman-teman sekelompoknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.

Pada tipe ini, biasanya anak-anak yang bergabung mempunyai masalah yang hampir sama lalu memberikan kesampatan yang sama lalu memberikan kesampatan pada salah satu anak untuk menjadi ketua kelompok. Pada tipe ini sering terjadi perilaku agresif dalam bentuk fisik.

Sedang pada tipe soliter, perilaku agresif dapat berupa fisik maupun verbal, biasanya dimulai oleh seseorang yang bukan bagian dari tindakan kelompok. Tidak ada usaha si anak untuk menyembunyikan perilaku tersebut. Anak tipe ini sering kali menjauhkan diri dari orang lain sehingga lingkungan juga menolak keberadaannya.

Tidak jarang anak-anak ini, baik secara individual atau berkelompok, membuat anak lain mengikuti kemauan mereka dengan cara-cara yang agresif. Akibatnya, ada anak atau sekelompok anak yang menjadi korban dari anak lain yang berperilaku agresif.

Pustaka :
- Intan Kusuma Wardhani, M.Psi, Psikolog/ http://puspensos.kemsos.go.id/

- MAHMUD SAEFI, S.Pd/ http://dianhusadanuruleka.blogspot.com

- https://belajarpsikologi.com/

Post a Comment

1 Comments