Modul PMKS dan PSKS Kemensos RI

PPKH Kecamatan Lakbok - Berikut ini adalah Modul PMKS dan PSKS Kementerian Sosial Republik Indonesia.

1. Masalah Sosial
Masalah sosial memiliki beberapa pengertian:

Menurut Horton dan Leslie: masalah sosial adalah kondisi yang dirasakan banyak orang sebagai kondisi yang tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan aksi sosial secara kolektif.
Menurut Soerjono Soekanto (1986: 344): permasalahan sosial akan muncul bila diri manusia atau suatu kelompok mengalami kekurangan ekonomi, biologis, biopsikologis dan budaya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan beberapa komponen penting yang disebut masalah sosial, yaitu:

Masalah bertahan untuk suatu periode tertentu;
Menyebabkan berbagai kerugian fisik atau mental baik pada individu atau masyarakat;
Ada pelanggaran atau penyimpangan terhadap nilai-nilai/norma/standar sosial dari satu atau beberapa sendi kehidupan dalam masyarakat

Foto Kegiatan Pertemuan Kelompok Peserta PKH Kec. Lakbok Kab. Ciamis

2. Karakteristik Masalah Sosial

Permasalahan dapat disebut sebagai masalah sosial jika mengandung karakteristik sebagai berikut (Suharto 2005: 84-95):

Kondisi yang dirasakan banyak orang: Jika dua orang merasakan masalah maka dapat dikatakan sebagai masalah sosial
Kondisi dinilai tidak menyenangkan: Pemahaman masyarakat sekitar tentang nilai yang dibangun terhadap masalah yang ada. Contoh: Permasalahan penjualan minuman keras/alkohol dapat menimbulkan keresahan/tidak keresahan tergantung kelompok masyakaratnya.
Menuntut pada pemecahan masalah sosial;
Pemecahan sosial dilakukan secara kolektif.

3. Sistem Sumber Kesejahteraan Sosial

Menurut Pincus (1973: 3), ada 3 sistem sumber kesejahteraan sosial yaitu:

Sistem sumber alamiah atau informal;
Sumber formal;
Sumber kemasyarakatan.

4. Kerangka Pemahaman Masyarakat dan Masalah Sosial

Menurut Edi Suharto (2005: 86) perumusan matriks kerangka pemahaman masyarakat dan masalah sosial adalah sebagai berikut:



5. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Menurut Permensos nomor 08 tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial pasal 1 ayat 3, PMKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya sehingga tidak dapat terpenuhi kepenuhan hidupnya baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar.

JENIS
DESKRIPSI
Anak balita terlantar
Seorang anak berusia 5 (lima) tahun   ke   bawah   yang   ditelantarkan   orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya tidak terpenuhi, serta dieksploitasi untuk tujuan tertentu
Anak terlantar
Seorang anak berusia 6 (lima) sampai 18 (delapan belas) tahun yang mengalami perlakuan salah dan   ditelantarkan   oleh   orang tua/keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga
Anak berhadapan dengan hukum
Seorang anak yang berusia 12 (dua belas) sampai 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, 1) yang diduga, disangka, didakwa, atau   dijatuhi   pidana   karena   melakukan tindak pidana; 2) yang menjadi korban tindak pidana atau melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana
Anak jalanan
Seorang anak yang berusia 5 - 18 tahun, dan anak yang bekerja atau dipekerjakan di jalanan, dan/atau anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari
Anak dengan Kedisabilitasan (ADK)
Seseorang berusia 18 tahun ke bawah yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan   rintangan   dan   hambatan   bagi   dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun  sosialnya   secara   layak, terdiri   dari   anak dengan   disabilitas   fisik,   disabilitas   mental,   serta disabilitas fisik dan mental (disabilitas ganda)
Anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah
Anak yang terancam secara fisik & non fisik karena tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial
Anak yang memerlukan perlindungan khusus
Anak usia 0-18 tahun dalam situasi darurat, anak korban perdagangan/penculikan, anak korban kekerasan baik      fisik dan/atau mental, anak korban eksploitasi, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi serta dari komunitas adat terpencil, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), serta anak yang terinfeksi HIV/AIDS
Lanjut usia terlantar
Seseorang berusia 60 tahun atau lebih yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Penyandang Disabilitas
Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental, dan penyandang disabilitas fisik dan mental.
Tuna Susila
Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian di luar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang, modul atau jasa
Gelandangan
Orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap, serta mengembara di tempat umum
Pengemis
Orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain
Pemulung
Orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara mengais langsung dan pendaur ulang barang-barang bekas
Kelompok minoritas
Kelompok yang mengalami gangguan keberfungsian sosialnya akibat diskriminasi dan marginalisasi yang diterima, karena keterbatasannya menyebabkan dirinya rentan mengalami masalah sosial, seperti homo (gay), waria, dan lesbian
Bekas Warga Binaan Pemasyarakatan
Seseorang yang telah selesai atau dalam 3 bulan segera mengakhiri masa hukuman pidana sesuai dgn keputusan pengadilan dan mengalami hambatan menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga kesulitan untuk mendapat pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal
Orang Dengan HIV/AIDS
Seseorang yang telah terinfeksi HIV dan membutuhkan pelayanan sosial, perawatan kesehatan, dukungan dan pengobatan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal
Korban penyalahgunaan NAPZA
Seseorang yang tidak sengaja menggunakan NAPZA, karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa dan/atau diancam untuk menggunakan NAPZA
Korban trafficking
Seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, seksual, ekonomi dan/atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang (UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang)
Korban Tindak Kekerasan
Orang (baik individu, keluarga maupun kelompok) yang mengalami tindak kekerasan, baik sebagai akibat penelantaran, perlakuan salah, eksploitasi, diskriminasi dan bentuk kekerasan lainnya maupun orang berada dalam situasi yang membahayakan dirinya sehingga menyebabkan fungsi sosialnya terganggu
Pekerja Migran Bermasalah Sosial
Pekerja migran internal dan lintas negara yang mengalami masalah sosial seperti tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran, pengusiran (deportasi), ketidakmampuan  menyesuaikan  diri di  tempat  kerja baru atau di negara tempatnya bekerja, sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi sosial
Korban Bencana Alam
Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa alam, berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, tanah longsor, dll
Korbang Bencana Sosial
Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok, antar komunitas masyarakat, dan teror
Perempuan rawan Sosial Ekonomi
Seorang perempuan dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan cukup   untuk   dapat   memenuhi   kebutuhan   pokok sehari-hari
Fakir miskin
Seseorang atau kepala keluarga yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan
Keluarga bermasalah sosial psikologis
Keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami-istri, orang tua dengan anak kurang serasi, sehingga tugas dan fungsi keluarga tidak dapat berjalan dengan waja
Komunitas Adat Terpencil
Kelompok orang atau masyarakat yang hidup dalam kesatuan sosial kecil yang bersifat lokal dan terpencil, masih sangat terikat pada sumber daya alam, serta  habitatnya secara sosial budaya terasing dan terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, sehingga memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan secara luas

6. Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)
Menurut Permensos nomor 08 tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial pasal 1 ayat 3, PSKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dapat berperan serta untuk menjaga, menciptakan, mendukung, dan memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan sosial..

JENIS
DESKRIPSI
Kriteria
Pekerja sosial profesional
Seseorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, serta kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktek Peksos utk melaksanakan tugas- tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial
  • Telah bersertifikasi pekerja sosial profesional; dan
  • Melaksanakan praktek pekerjaan sosial.
Pekerja sosial masyarakat
Warga masyarakat   yang   atas   dasar   rasa   kesadaran   & tanggung jawab sosial, serta didorong oleh rasa kebersamaan, kekeluargaan & kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi di bidang kesejahteraan sosial
  • Warga Negara Indonesia;
  • Laki-laki atau perempuan usia minimal 18 (delapan belas) tahun;
  • Setia dan taat pada Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  • Bersedia mengabdi untuk kepentingan umum;
  • Berkelakuan baik;
  • Sehat jasmani dan rohani;
  • Telah mengikuti pelatihan PSM;
  • Berpengalaman sebagai anggota Karang Taruna sebelum jadi PSM.
Taruna Siaga Bencana
Seorang relawan yang berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana
  • Generasi muda berusia 18 (delapan belas) tahun sampai dengan 40 (empat puluh) tahun
  • Memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanggulangan bencana;
  • Bersedia mengikuti pelatihan yang khusus terkait dengan penanggulangan bencana;
  • Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; dan
  • Setia dan taat pada Pancasila dan UUD Negara R.I Tahun 1945
Lembaga Kesejahteraan Sosial
Organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum
  • Mempunyai    nama, struktur    dan    alamat organisasi yang jelas;
  • Mempunyai pengurus dan program kerja;
  • Berbadan hukum atau tidak berbadan hukum;
  • Melaksanakan/mempunyai kegiatan dalam bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Taruna
Organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial
  • Organisasi kepemudaan berkedudukan di desa/kelurahan;
  • Laki-laki atau perempuan yang berusia 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 45 (empat puluh lima) tahun dan berdomisili di desa;
  • Mempunyai nama dan alamat, struktur organisasi dan susunan kepengurusan; dan
  • Keanggotaannya bersifat stelsel pasif.
Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3)
Lembaga/Organisasi yang memberikan pelayanan konseling, konsultasi, pemberian/penyebarluasan informasi, penjangkauan, advokasi dan pemberdayaan bagi keluarga secara profesional, termasuk merujuk sasaran ke lembaga pelayanan lain yang benar-benar mampu memecahkan masalahnya secara lebih intensif
  • Organisasi sosial;
  • Aktifitas memberikan jasa layanan konseling, konsultasi, informasi, advokasi, rujukan;
  • Didirikan secara formal; dan
  • Memiliki struktur organisasi dan pekerja sosial, serta tenaga fungsional yang profesional.
Keluarga pioner
Keluarga yang mampu mengatasi masalahnya dengan cara-cara efektif dan bisa dijadikan panutan bagi keluarga lainnya
  • Keluarga yang mampu melaksanakan fungsi-fungsi keluarga;
  • Keluarga yang mempunyai prilaku yang dapat dijadikan panutan;
  • Keluarga yang mampu mempertahankan keutuhan keluarga dengan prilaku yang positif; dan
  • Keluarga yang mampu & mau menularkan perilaku kepada keluarga lainnya.
Wahana Kesejahteraan Sosial Keluarga Berbasis Masyarakat
Sistem kerjasama antar keperangkatan pelayanan sosial di akar rumput yang terdiri atas usaha kelompok, lembaga maupun jaringan pendukungnya
  • Adanya sejumlah   perkumpulan, asosiasi, organisasi/kelompok yang tumbuh dan berkembang di lingkunganRT/RW/Kampung/Desa/kelurahan/nagari/banjar atau wilayah ada
  • Jaringan sosial yang berada di RT/RW/Kampung/Desa/ Kelurahan/nagari/banjar atau wilayah adat; dan
  • Masing-masing perkumpulan, asosiasi, organisasi kelompok tersebut secara bersama-sama melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara sinergis di lingkungan
Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial
Wanita yang mampu menggerakkan dan memotivasi penyelenggaraan kesejahteraan sosial di lingkungannya
  • Berusia 18 sampai dengan 59 tahun;
  • Berpendidikan minimal SLTP;
  • Wanita mempunyai potensiuntuk menjadi/sudah menjadi pemimpin & diakui oleh masyarakat setempat;
  • Telah mengikuti pelatihan kepemimpinan wanita di bidang kesejahteraan sosial;
  • Memimpin usaha kesejahteraan sosial terutama yang dilaksanakan oleh wanita di wilayahnya
Penyuluh Sosial
Individu yang diberi tugas, tanggung jawab wewewang dan hak untuk melakukan kegiatan penyuluhan bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan
Tenaga inti pengendali kegiatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di kecamatan
  • Berasal dari unsur masyarakat;
  • Berdomisili di kecamatan dimana ditugaskan;
  • Pendidikan minimal SLTA, diutamakan D3/S1;
  • Diutamakan aktifis karang taruna atau PSM;
  • Berusia 25 sampai dengan 50 tahun;
  • Berbadan sehat (keterangan dokterpuskesmas);
  • Diutamakan yang sudah mengelola UEP; SK ditetapkan oleh Kementerian Sosial.
Dunia Usaha
Organisasi yang bergerak di bidang usaha, industri atau produk barang atau jasa, serta BUMN, BUMD, serta/atau wirausahawan beserta jaringannya   yang   peduli   dan   berpartisipasi   dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagai wujud tanggung jawab sosial
  • peduli   dan   berpartisipasi dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
  • membantu penanganan masalah sosial.

Pustaka
Modul PMKS & PSKS - lms.bp3s.kemsos.go.id

Post a Comment

1 Comments